Semua Tentang Cinta – Apakah Artinya Cinta?

13 Okt

                      Semua Tentang Cinta – Apakah Artinya Cinta?


Sejak Nabi Adam A.S. belum diturunkan ke dunia, cinta sudah menjadi bagian yang penting dalam penciptaan semesta, termasuk di dalamnya penciptaan manusia.
Kenapa?? Karena sejatinya manusia diciptakan ke dunia ini berdasarkan rasa kasih dan sayang Allah SWT.
Logikanya kalau Allah tidak menyayangi dan memberi peran pada manusia dalam perputaran roda dunia, Allah tidak akan pernah menciptakan manusia.
Bahkan ketika Adam berkeluh kesah karena merasa sendiri dan sepi di surga, Allah menciptakan Hawa untuk menemaninya bukan.
Jadi apa artinya CINTA?? Apakah yang dimaksud dengan cinta adalah selalu bersama?


Syahdan sejak zaman Qabil dan Habil, CINTA sudah menjadi hal yang pelik. Bahkan pembunuhan pertama di dunia didasari oleh kecemburuan semata.
Kalau tidak ada yang namanya "perasaan cinta" di antara manusia, tidak akan ada ceritanya Majnun gila karena Layla. Takkan ada ceritanya drama Romeo dan Juliet bunuh diri bersama. Takkan ada pula ceritanya simfoni indah Beethoven "Di Bawah Sinar Bulan" digubah dan dikumandangkan ke seluruh dunia, juga takkan pernah ada puisi-puisi romantis para pujangga yang menulis tentang makna dan hakikat cinta.
Tapi apa sebenarnya CINTA?? Apakah sebatas kata-kata yang dapat diresapi maknanya?


Cinta…CINTA…cInTa…begitu banyak orang yang mendefinisikannya. Tapi apakah definisi cinta semua orang di dunia ini haruslah sama? Apakah jika orang bilang cinta itu begini, ataupun cinta itu begitu, rasa sayang ini begini, rasa sayang itu begitu, maka kita harus mengikuti definisi yang diberikan oleh orang-orang tersebut…?? Padahal mereka juga cuma MANUSIA yang sedang mencari-cari apa sebenarnya makna CINTA.


Cinta…CINTA…CiNtA…Kenapa cinta menjadi sesuatu yang rumit? Sedangkan Allah sendiri sebagai PENCIPTA para makhluk pencinta ini, yang mempunyai gelar ArRahman serta ArRahiim telah menyatakan sejelas-jelasnya arti CINTA itu sendiri, yakni CINTA kepadaNYA. Cinta kepada Allah harusnya menempati posisi yang paling utama di dalam hati dan kehidupan kita, melebihi yang lainnya.


Cinta…CINTA…CiNtA…Kenapa tidak kita ciptakan saja definisi cinta bagi diri kita sendiri? Setiap orang berhak dan perlu untuk mendefinisikan arti cinta mereka. Mengapa? Karena jalan hidup setiap manusia di dunia ini sangatlah unik dan berbeda setiap detiknya. Tidak semua definisi CINTA cocok bagi manusia yang lainnya, karena manusia memang belajar mengenai kehidupan dan diri mereka sendiri dari sejarah yang telah ditinggalkan, serta dari pengalaman yang telah berlalu.


CINTA…Menurut salah seorang kenalan saya, SN, antara lain berani mencintai berarti berani untuk disakiti dan mengalami rasa sakit. The one you love will be the one who hurt you most. Is It? Ya, mungkin ada benarnya. Karena jujur saja, kita tidak akan merasa pernah disakiti oleh orang yang istilah katanya ”kurang berarti bagi kita”. Ucapan dan perbuatan mereka hanya akan sekedar menjadi angin lalu.
Namun pernahkah kita berpikir bahwa diluar sana benar-benar ada cinta yang tidak akan pernah membuat kita sakit dan patah hati?


CINTA…menurut IAN terdiri dari empat aspek, yaitu: Love, trust, respect, and honest. Ian berpendapat bahwa Cinta tanpa adanya unsur Kepercayaan, Penghargaan, dan Kejujuran adalah suatu ketimpangan. Contohnya: apabila kita mencintai orangtua kita, namun kita tidak mempunyai penghargaan terhadap mereka, masihkah hal tersebut bisa dikatakan CINTA? Tentunya hanya akan menjadi hal yang sia-sia dan menyakitkan bukan…Ataupun saat kita mencintai pasangan kita, apakah itu bisa dikatakan CINTA saat hubungan itu tidak dilandasi oleh adanya rasa percaya dan kejujuran dari masing-masing pihak?


Lain lagi cinta menurut Dini. CINTA…menurut Dini adalah suatu rasa dimana dalam cinta itu dapat kita temukan: Chayank…Indah…Nature…Tenang…Aman. Apabila salah satu hal tersebut tidak dapat kita temukan dari orang yang kita inginkan, maka orang tersebut tidak layak untuk kita cintai maupun mendapatkan cinta kita. 


Cinta…CINTA…CiNtA…menurut saya sendiri adalah suatu hal yang universal dan bermakna kesucian, ketulusan, serta tanggung jawab. Cinta harus dapat membawa kita kepada jalan kebaikan dan menambah kecintaan kita kepada Allah Swt, pemilik dari semua cinta yang ada di dunia dan juga di akhirat. Mungkin bagi sebagian orang hal tersebut adalah suatu pemikiran yang naif.


Namun menurut saya, cinta semestinya suatu hal yang murni, dan datangnya dari lubuk hati yang paling dalam, maka dari itu saya sering tidak mengerti kenapa banyak orang tega mempermainkan rasa cinta. Ya…memang banyak alasan di dunia ini yang bisa menjadi "pelegalan" atas semua hal yang terjadi di sekitar kita, namun hal itu bukanlah alasan untuk dapat berbuat sesuka hati dengan hati orang lain!
Satu yang jelas CINTA itu tulus, tanpa pamrih. Sebagai contoh: pernahkah terfikir dalam ingatan kita atas segala kasih dan sayang yang telah ditumpahkan orang tua kepada kita, sedari kecil sampai menjadi seseorang yang punya arti di dunia ini? Adakah orangtua kita menuntut balas atas semua pengorbanan mereka? Yang saya tahu, kebanyakan mereka saat sudah tua dan kita ajak untuk tinggal bersama, malah memilih untuk tinggal sendiri karena mereka tidak ingin merepotkan kita. Itulah salah satu bentuk CINTA sepanjang masa orangtua kepada putra – putrinya.


Selain itu CINTA bagi saya juga merupakan suatu tanggung jawab. Saat kita jatuh cinta dan berkomitmen untuk mengikat hubungan dengan orang ataupun hal yang kita cintai, maka di saat itu pula kita harus sadar bahwa tanggung jawab yang diemban juga bertambah. Selain tanggung jawab terhadap diri kita sendiri, kita juga harus bertanggung jawab terhadap pasangan kita, keluarga masing-masing, kemudian penghargaan atas rasa cinta yang kita yakini, dan yang paling penting kita harus bisa mempertanggungjawabkan rasa cinta dan usaha kita dalam mempertahankannya kepada Allah Swt. Adakah sebersit CINTA dari sifat MAHA-Nya yang telah dikaruniakan kepada seluruh manusia di dunia dapat membuat perubahan pada dunia dan menjadikan manusia itu jadi lebih baik? 


Alkisah suatu cerita diriwayatkan oleh Syaqiq Al Balakhi. Beliau pernah bertanya kepada salah seorang sahabat yang sekaligus menjadi muridnya, Hatim. Beliau bertanya, “sudah lama engkau bersahabat denganku. Selama ini pelajaran dan hikmah apa saja yang telah engkau dapatkan?”. Maka Hatim menjawab salah satunya adalah, “Aku melihat setiap orang mempunyai kekasih pujaan hatinya. Tetapi apabila orang itu telah berada di kuburan (sudah meninggal), kulihat semua kekasihnya meninggalkannya. Karena itulah aku menjadikan kebaikan dan segala amal ibadahku sebagai kekasihku karena aku tahu ia senantiasa menyertaiku walaupun aku kelak telah di pekuburan (telah meninggal)”.


Cinta…CINTA…CiNtA…Akankah hal itu akan menjadi hal yang usang dan semata-mata permainan, selaras dengan pasang surutnya lagu-lagu cinta yang bergaung setiap hari di sekitar kita? Haruskah airmata kita kembali menetes untuk Cinta…CINTA…CiNtA…yang tidak jelas ujungnya?


Rasanya bukan hal yang sia-sia apabila kita mengukir kehidupan kita dengan rasa cinta beserta segala konsekuensinya namun tetap dalam koridor dan orbit Allah Swt. CINTA yang tumbuh karena Allah Swt, CINTA kepada setiap kebaikan karena Allah Swt. CINTA, seperti yang sudah saya ungkapkan sebelumnya, semuanya kembali kepada diri kita masing-masing dalam memaknainya,




Bandung, 13 Oktober 2006
By: Devi Ratnaning. A.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: