Kenapa Sih Harus Hemat Energi??

1 Agu

                              

        Kenapa sih Harus Menghemat Energi?
                                               11-Mar-2005; 12:19 – RE

   


Oleh : Rizka Elyza dan Yoyoh Hulaiyah – Yayasan Pelangi Indonesia

Masih ingat pepatah "gemah ripah loh jinawi"? Terjemahan bebas dari pepatah ini adalah "negara yang subur, makmur dan sejahtera". Banyak orang yang mengatakan Indonesia adalah negara yang gemah ripah loh jinawi; lautannya berbentuk kolam susu, sementara tongkat, kayu dan batu adalah tanamannya. Hmm, mari kita tengok faktanya.

Naiknya harga minyak secara sangat signifikan (oil booming) pada dekade tahun 1970-an, telah membuat Indonesia seperti tertimpa durian runtuh. Dana dari hasil penjualan minyak bumi telah mengantar negeri ini dalam pembangunan ekonomi. Keuntungan dari ekspor minyak berlipat ganda, sehingga, beberapa tahun setelah oil booming ini, pemerintah Orde Baru memutuskan untuk memberikan subsidi energi.

Langkah pemberian subsidi ini, pada saat itu, dianggap sebagai langkah tepat yang mampu menarik investor asing turut serta membangun Indonesia. Alhasil, hingga pertengahan 1990-an, pesatnya pembangunan di Indonesia telah membuat negeri ini menjadi salah satu kandidat ‘Macan Asia’, bersama dengan Thailand dan Malaysia.

Namun, kejayaan Indonesia dari hasil minyak bumi ini tampaknya akan segera menjadi kenangan. Sumur-sumur minyak Indonesia kini sudah semakin mengering, karena ekstraksi (pengeboran) minyak bumi tidak dibarengi oleh eksplorasi (pencarian sumber –bahan bakar—baru) [eksplorasi adalah pencarian ladang minyak bumi baru, bukan?]. Jika pada dekade 1970-an kapasitas produksi minyak mentah Indonesia masih berada di kisaran angka 1,3 juta barel pertahun, pada tahun 2000-an sudah jauh menurun hingga 500 juta barel pertahun.

Andaikan saja kapasitas produksi Indonesia akan tetap sebesar 0,5 milyar barrel per tahun, maka cadangan minyak negeri ini yang tinggal kurang dari 5 milyar barrel akan habis dalam jangka waktu 10 tahun.

Dengan asumsi tidak ada investasi baru di bidang eksplorasi minyak bumi, diperkirakan tidak lebih dari satu dekade lagi kebutuhan minyak dalam negeri Indonesia harus seluruhnya dipenuhi lewat impor.

Maka, inilah kira-kira yang akan terjadi: Impor minyak bumi Indonesia diperkirakan mencapai 441 juta barrel pada tahun 2020. Dengan asumsi harga minyak mentah sebesar US$40 per barrel saja, Indonesia akan mengeluarkan biaya impor sebesar US$18 milyar di tahun 2020— setara dengan lebih dari 3 kali subsidi energi tahun 2005 yang besarnya US$5,7 milyar , atau sekitar 18 kali biaya impor minyak yang dikeluarkan pada tahun 1998 yang besarnya sekitar US$1 milyar.

Fakta ini tidak bisa kita ubah. Hanya ada tiga jalan keluarnya, mencari ladang minyak baru, mengembangkan sumber energi terbarukan seperti sinar matahari dan panas bumi, serta menggunakan energi dengan efisien.
Kenyataan bahwa sektor energi merupakan penggerak roda pembangunan ekonomi tidaklah dapat kita pungkiri. Namun ketika cadangan minyak bumi makin menipis maka energi berpotensi menjadi penghambat pembangunan. Bagaimana ini bisa terjadi? Mari kita tengok ke belakang.

+++++++++

Pada tahun 1973 produksi minyak nasional kita berada pada angka 1,3 juta barel per hari dengan kondisi jumlah penduduk 120 juta jiwa dan harga minyak rata-rata sekitar US$ 8 per barel. Saat ini, nyatanya, Indonesia hanya mampu memproduksi sebesar 981 ribu barel perhari dengan kondisi jumlah penduduk 220 juta jiwa dan harga minyak rata-rata US$ 40 per barel.

Untuk menutupi celah antara produksi dan konsumsi, pemerintah menetapkan kebijakan impor bahan bakar.

Walaupun Indonesia saat ini menjadi anggota Asosiasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), sebetulnya Indonesia sudah menjadi net importer atau pengimpor bersih. Data pada bulan Agustus 2004 menunjukkan setiap hari Indonesia mengekspor rata-rata 400.000 barel (1 barel = 159 liter) minyak mentah, tetapi impor minyak kita lebih besar, yaitu sekitar 500.000 barrel .

Pada tahun 2001, dari Rp 70 trilliun kontribusi ekspor minyak mentah bagi pendapatan negara, Rp 62 trilliun habis digunakan untuk subsidi. Walaupun pengurangan subsidi bahan bakar sudah dilakukan secara bertahap, tetapi anggaran biaya negara untuk subsidi di tahun 2005 masih bertengger di angka Rp 53 trilyun.
Bisa kita bayangkan berapa besar biaya yang harus dikeluarkan pemerintah jika kita sama sekali tidak bisa lagi memproduksi minyak, tetapi harus tetap memberikan subsidi.

Selain beban keuangan, harga energi yang cenderung murah telah membuat rakyat Indonesia menjadi tidak efisien.

Setidaknya ada dua parameter untuk mengetahui tingkat boros/tidaknya penggunaan energi, yaitu elastisitas dan intensitas energi. Dari kedua parameter tersebut, pemakaian energi Indonesia termasuk dalam kategori boros.
Elastisitas energi adalah perbandingan antara pertumbuhan konsumsi energi dengan pertumbuhan ekonomi. Semakin rendah elastisitasnya maka semakin efisien penggunaan energinya. Elastisitas energi Indonesia berada pada kisaran 1,04 – 1,35 dalam kurun 1985 – 2000 . Bandingkan dengan elastisitas energi negara-negara maju yang berada pada kisaran 0,55 – 0,65 pada kurun yang sama.

Intensitas energi adalah perbandingan antara jumlah konsumsi energi per PDB (Pendapatan Domestik Bruto).

Semakin efisien suatu negara, maka intensitasnya akan semakin kecil. Intensitas energi Indonesia sekitar empat kali intensitas energi Jepang (Index Jepang=100, Indonesia=400). Angka tersebut juga di atas intensitas energi negara-negara Amerika Utara (sekitar 300), negara-negara OECD (sekitar 200), bahkan Thailand (sekitar 350). Diagram 2 memperlihatkan hubungan intensitas energi dan energi per kapita beberapa negara pada tahun 1998. Silakan tengok diagram di bawah ini.

Tingginya konsumsi energi juga memberikan dampak negatif bagi lingkungan. Masih ingat betapa segarnya udara Jakarta pada tahun 1980-an? Kini, udara segar merupakan barang mahal bagi warga Jakarta. Sebuah survei tentang kualitas udara di Jakarta mengungkapkan bahwa penduduk Jakarta tahun 2004 yang lalu hanya bisa menikmati udara sehat selama 20 hari saja dalam satu tahun.

Setiap 1 liter bensin yang terbakar dalam kendaraan bermotor yang kita gunakan, menghasilkan kurang lebih 2,24 kg emisi karbon. Sementara untuk 1 kWh listrik yang kita gunakan, emisinya senilai 800 gr CO2. Selain berbahaya bagi kesehatan, karbon dioksida (CO2) adalah penyebab terbesar dari efek pemanasan global.

Dampak dari pemanasan global adalah fenomena perubahan iklim.

Masih ingat dengan siklus iklim Indonesia? Bila dulu kita mendapatkan pelajaran bahwa Indonesia terdiri dari 6 bulan musim hujan (September – Februari) dan 6 bulan musim kemarau (Maret – Agustus), kini siklus musim hujan/kemarau itu tak lagi bisa dipastikan.

Perubahan iklim ini memberikan dampak yang sangat besar bagi Indonesia. Bencana banjir di Jakarta pada tahun 2002 memberikan gambaran bagaimana perubahan iklim telah membuat kehidupan manusia begitu sengsara. Selain menghancurkan rumah, banjir juga membawa dampak sosial lainnya seperti penyebaran penyakit, terganggunya produktifitas, dan lain-lain. Belum lagi akibat-akibat lain seperti gagal panen karena musim yang susah lagi diprediksi. Penyakit-penyakit seperti malaria dan demam berdarah juga diindikasikan sebagai dampak dari perubahan iklim.

+++++++++

Ketika cadangan minyak menipis, kualitas lingkungan menurun dan harga energi makin mahal, apa yang kita lakukan? Apakah kita akan menjerit-jerit meminta subsidi kepada Pemerintah? Jika Anda termasuk dalam 37 juta rakyat miskin di Indonesia, maka jawabannya adalah iya. Sudah saatnya subsidi didistribusikan tepat sasaran dan hanya dinikmati oleh mereka yang tidak mampu. Subsidi energi harus dicabut dan dialihkan menjadi subsidi langsung yang betul-betul dinikmati oleh rakyat miskin, misalnya subsidi untuk pendidikan dan pelayanan kesehatan.

Pengelolaan subsidi harus dilakukan dengan sungguh-sungguh sehingga tidak ada lagi kasus-kasus pemberian subsidi yang salah sasaran seperti terjadi beberapa tahun belakangan ini.
Pendapat yang mengatakan bahwa kenaikan harga energi akan menaikkan biaya produksi harus kita tepis. Biaya produksi mahal bukan karena harga energi mahal, tetapi karena Indonesia menggunakan energi dengan tidak efisien. Energi digunakan untuk kegiatan yang tidak menghasilkan, tercermin dari tingginya elastisitas dan intensitas energi Indonesia. Pandangan bahwa energi itu murah sudah saatnya kita tinggalkan.

Momentum menghemat energi inipun semakin menarik ketika harga BBM naik hingga 30%. Mari, sudah saatnya kita berhemat. Ingat pepatah "hemat pangkal kaya"!

Catatan: tulisan ini pernah dimuat di Koran Tempo 10 Maret 2005.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: