Laksamana Cheng Ho Penemu Amerika

26 Jul

Laksamana Cheng Ho Penemu Amerika

Bukan Christopher Columbus yang menemukan Benua Amerika yang
pertama, tapi Laksamana Cheng Ho (1371-1435) dari Cina. Begitu kata
Liu Gang, seorang kolektor peta. Ia mempunyai bukti untuk teori
kontroversialnya itu berupa peta yang berasal dari 1763. Namun,
menurut Gang, peta itu memiliki tanda yang jelas yang menerangkan
peta itu adalah salinan dari peta asli yang dibuat pada 1418. Tahun
itu berbarengan dengan ekspedisi Laksamana Cheng Ho yang berlangsung
dari 1405 hingga 1432. Dari sini, Gang yakin Cheng Ho adalah orang
yang menemukan Benua Amerika pertama kali dan mengelilingi dunia.

Peta itu dipamerkan Gang di Beijing sejak 16 Januari lalu. Gang
membeli peta itu dari kolektor peta dari

Shanghai

pada 2001. Namun,
ia baru menyadari betapa pentingnya peta itu setelah membaca buku
laris karya Gavin Menzies, 1421: The Year China Discovered the
World. Dalam buku itu, Menzies menerangkan teorinya bahwa peta dunia
yang dibuat oleh Laksamana Cheng Ho itu disalin oleh pembuat peta
dari Eropa yang kemudian digunakan sebagai panduan bagi misi
penjelajahan samudra oleh bangsa Eropa seperti Columbus, Ferdenand
Magellan, Vasco da Gama, dan James Cook.

Cheng Ho adalah kasim muslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar
Yongle (berkuasa pada 1403-1424)–kaisar ketiga dari Dinasti Ming.
Nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao,
berasal dari Provinsi

Yunnan

. Ketika pasukan Ming menaklukkan

Yunnan

, Cheng Ho ditangkap dan kemudian dijadikan kasim. Ia adalah
seorang bersuku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku
Han tapi beragama Islam.

Cheng Ho berlayar ke Malaka pada abad ke-15. Saat itu seorang putri
Cina, Hang Li Po (atau Hang Liu), dikirim oleh kaisar Cina untuk
menikahi Raja Malaka (Sultan Mansur Shah). DOD | AFP

Penemu Benua Amerika Seorang Muslim? (Republika)

Sekitar 70 tahun sebelum

Columbus

menancapkan benderanya di daratan
Amerika, Laksamana Zheng He sudah lebih dulu datang ke

sana

.

Para

peserta seminar yang diselenggarakan oleh Royal Geographical Society
di London beberapa waktu lalu dibuat terperangah. Adalah seorang
ahli kapal selam dan sejarawan bernama Gavin Menzies dengan
paparannya dan lantas mendapat perhatian besar.
Tampil penuh percaya diri, Menzies menjelaskan teorinya tentang
pelayaran terkenal dari pelaut mahsyur asal Cina, Laksamana Zheng He
(kita mengenalnya dengan Ceng Ho-red). Bersama bukti-bukti yang
ditemukan dari catatan sejarah, dia lantas berkesimpulan bahwa
pelaut serta navigator ulung dari masa dinasti Ming itu adalah
penemu awal benua Amerika, dan bukannya

Columbus

.
Bahkan menurutnya, Zheng He ‘mengalahkan’

Columbus

dengan rentang
waktu sekitar 70 tahun. Apa yang dikemukakan Menzies tentu membuat
kehebohan lantaran masyarakat dunia selama ini mengetahui bahwa
Columbus-lah si penemu benua Amerika pada sekitar abad ke-15.
Pernyataan Menzies ini dikuatkan dengan sejumlah bukti sejarah.
Adalah sebuah peta buatan masa sebelum

Columbus

memulai ekspedisinya
lengkap dengan gambar benua Amerika serta sebuah peta astronomi
milik Zheng He yang dosodorkannya sebagai barang bukti itu. Menzies
menjadi sangat yakin setelah meneliti akurasi benda-benda bersejarah
itu.

”Laksana inilah yang semestinya dianugerahi gelar sebagai penemu
pertama benua Amerika,” ujarnya. Menzies melakukan kajian selama
lebih dari 14 tahun. Ini termasuk penelitian peta-peta kuno, bukti
artefak dan juga pengembangan dari teknologi astronomi modern
seperti melalui program software Starry Night.
Dari bukti-bukti kunci yang bisa mengubah alur sejarah ini, Menzies
mengatakan bahwa sebagian besar peta maupun tulisan navigasi Cina
kuno bersumber pada masa pelayaran Laksamana Zheng He.
Penjelajahannya hingga mencapai benua Amerika mengambil waktu antara
tahun 1421 dan 1423. Sebelumnya armada kapal Zheng He berlayar
menyusuri jalur selatan melewati Afrika dan sampai ke Amerika
Selatan.

Uraian astronomi pelayaran Zheng He kira-kira menyebut, pada larut
malam saat terlihat bintang selatan sekitar tanggal 18 Maret 1421,
lokasi berada di ujung selatan Amerika Selatan. Hal tersebut
kemudian direkonstruksi ulang menggunakan software Starry Night
dengan membandingkan peta pelayaran Zheng He.
"Saya memprogram Starry Night hingga masa di tahun 1421 serta bagian
dunia yang diperkirakan pernah dilayari ekspedisi tersebut," ungkap
Menzies yang juga ahli navigasi dan mantan komandan kapal selam
angkatan laut Inggris ini. Dari sini, dia akhirnya menemukan dua
lokasi berbeda dari pelayaran ini berkat catatan astronomi (bintang)
ekspedisi Zheng He.

Lantas terjadi pergerakan pada bintang-bintang ini, sesuai
perputaran serta orientasi bumi di angkasa. Akibat perputaran bumi
yang kurang sempurna membuat sumbu bumi seolah mengukir lingkaran di
angkasa setiap 26 ribu tahun. Fenomena ini, yang disebut presisi,
berarti tiap titik kutub membidik bintang berbeda selama waktu
berjalan. Menzies menggunakan software untuk merekonstruksi posisi
bintang-bintang seperti pada masa tahun 1421.

"Kita sudah memiliki peta bintang Cina kuno namun masih membutuhkan
penanggalan petanya," kata Menzies. Saat sedang bingung memikirkan
masalah ini, tiba-tiba ditemukanlah pemecahannya. "Dengan kemujuran
luar biasa, salah satu dari tujuan yang mereka lalui, yakni antara

Sumatra

dan Dondra Head, Srilanka, mengarah ke barat."
Bagian dari pelayaran tersebut rupanya sangat dekat dengan garis
katulistiwa di Samudera Hindia. Adapun Polaris, sang bintang utara,
dan bintang selatan

Canopus

, yang dekat dengan lintang kutub
selatan, tercantum dalam peta. "Dari situ, kita berhasil menentukan
arah dan letak Polaris. Sehingga selanjutnya kita bisa memastikan
masa dari peta itu yakni tahun 1421, plus dan minus 30 tahun."
Atas temuan tersebut, Phillip Sadler, pakar navigasi dari Harvard-
Smithsonian Center for Astrophysics, mengatakan perkiraan dengan
menggunakan peta kuno berdasarkan posisi bintang amatlah
dimungkinkan. Dia juga sepakat bahwa estimasi waktu 30 tahun,
seperti dalam pandangan Menzies, juga masuk akal.

Sang penjelajah ulung
Selama ini, masyarakat dunia mengetahui kiprah Zheng He sebagai
penjelajah ulung. Dia terlahir di Kunyang,

kota

yang berada di
sebelah barat daya Propinsi Yunan, pada tahun 1371. Keluarganya yang
bernama Ma, adalah bagian dari warga minoritas Semur. Mereka berasal
dari kawasan Asia Tengah serta menganut agama Islam. Ayah dan kakek
Zheng He diketahui pernah mengadakan perjalanan haji ke Tanah Suci
Makkah. Sementara Zheng He sendiri tumbuh besar dengan banyak
mengadakan perjalanan ke sejumlah wilayah. Ia adalah Muslim yang
taat.

Yunan adalah salah satu wilayah terakhir pertahanan bangsa Mongol,
yang sudah ada jauh sebelum masa dinasti Ming. Pada saat pasukan
Ming menguasai Yunan tahun 1382, Zheng He turut ditawan dan dibawa
ke

Nanjing

. Ketika itu dia masih berusia 11 tahun. Zheng He pun
dijadikan sebagai pelayan putra mahkota yang nantinya menjadi kaisar
bernama Yong Le. Nah kaisar inilah yang memberi nama Zheng He hingga
akhirnya dia menjadi salah satu panglima laut paling termashyur di
dunia.
( yus/berbagai sumber )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: