PSIKOPATOLOGI KEKERASAN

9 Jul

                                  Psikopatologi Kekerasan

                     "Kenapa Seseorang Melakukan Kekerasan ?"

Kekerasan sering ditemukan pada sebagian besar spesies dan lingkungan sosial. Pada suatu survei didapatkan bahwa kekerasan biasanya terjadi pada seseorang ataupun keluarga dan sebagian besar korbannya adalah wanita dan pelakunya adalah laki – laki.
Sehingga muncul pertanyaan “kenapa seseorang melakukan kekerasan?” untuk menjawab pertanyaan itu muncullah 3 teori yang menjelaskan yaitu:
1.      Teori “ Insting-agresif”
2.      Teori “ Frustasi-agresif”
3.      Teori “ Tindakan agresif merupakan proses pembelajaran”

1. Teori “Insting-agresif”
Telah dipercaya sejak lama bahwa manusia dilahirkan dengan insting agresif yang berbeda-beda pada setiap indivudu (Hobbes-Freud). Menurut Freud terdapat suatu energi (libido) yang membuat seseorang mencari pengalaman yang menyenankan dan menantang. Pandangan ini dapat dilihat pada orang-orang yang pergi berperang. Konrad Lorens berpendapat bahwa tindakan agresif berfungsi dalam mempertahankan eksistensi suatu spesies dan insting ini sedikit dipengaruhi oleh lingkungan.

2. Teori ” Frustasi- agresif”
Teori ini berkembang dan mengantikan teori ”Insting-agresif” yang dianggap suatu teori pesimis. Frustasi sendiri di definisikan sebagai suatu keadaan bila suatu tujuan  dihalangi. Semakin dekat seseorang mencapai tujuannya dihalangi semakin besar pula frustasi dan tindakan agresif yang ditimbulkan. Reaksi terhadap keadaan yang tidak menyenangkan ini (frustasi) berbeda-beda dan tidak dapat diperkirakan pada setiap individu, mungkin kita akan menemui reaksi yang agresif, menghindar, maupun melarikan diri. Teori ini dapat memperkirakan kenapa tindakan agresif sering timbul, tetapi terdapat perbedaan diantara setiap individu dalam menghadapi keaadaan yang mengganggu ini diperkirakan banyak faktor yang memberi kontribusi dalam pemilihan seseorang untuk bereaksi.

3. Teori ” Tindakan agresif merupakan proses pembelajaran”
Teori ini merupakan perkembangan dari teori ” frustasi-agresif” dimana bila dilakukan analisis yang mendalam interaksi antara subjek dengan lingkunganya sehingga didapatkan bahwa tindakan agresif merupakan proses pembelajaran. Sehingga ada golongan yang berpendapat bila tindakan agresif merupakan proses pembelajaran berarti tindakan agresif ini juga dapat tidak di pelajari, perkembangan dari teori ini berguna dalam suatu tindakan preventif dan kuratif. Pada permulaan perkembangan teori ini ditemukan hubungan antara pemberian penghargaan-hukuman terhadap perilaku seseorang disini dapat dilihat apabila perilaku seseorang diberikan suatu penghargaan maka perilaku tersebut semakin menguat, sedangkan apabila perilaku seseorang di berikan hukuman maka perilaku tersebut akan semakin melemah. Perilaku seseorang tidak hanya dipelajari bila terdapat penghargaan- hukuman tetapi juga didapat berdasarkan hasil observasi dan tindakan peniruan. Pada seorang anak daya observasi dan peniruan ini begitu berkembang sangat baik sebagai contoh pada suatu keadaan dimana seorang anak menonton film dan difilm itu ada adegan yang memperlihatkan orang dewasa memukuli boneka, tindakan ini akan ditiru oleh seorang anak, berbeda tindakan yang akan terjadi pada anak yang tidak pernah menonton film ini maka anak ini akan bermain dengan boneka tersebut. Terdapat 3 faktor penting yang berperan dalam proses pembelajaran ini yaitu: faktor besarnya penerimaan seseorang, faktor provokasi (mendukung), dan faktor yang mempertahankan perilaku ini. Pada penelitian lain memperlihatkan dimana pada orang tua yang selalu memberikan perintah kepada anaknya dengan kekerasan akan mendapatkan anak yang mempunyai tindakan yang negatif bahkan sampai agresif. Patterson menyumbangkan hipotesis ”coercion” (paksaan) disini diperlihatkan seseorang dapat belajar untuk memaksakan kehendaknya untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkanya sebagai contoh seorang anak yang menginginkan sesuatu tetapi orang tuanya tidak mengabulkan permintaanya maka anak tersebut akan mulai melakukan tindakan-tindakan agresif sampai akhirnya tindakan anak tersebut begitu menggangu dan orang tuanya akan memberikan permintaan si anak. Disini si anak akan belajar bila ia menginginkan sesuatu maka ia hanya perlu melakukan tindakan agresif secara terus menerus sampai akhirnya orang tuanya akan mengabulkan permintaanya. Faktor lingkungan sosial seseorang juga banyak berpengaruh dalam proses pembelajaran ini sehingga bila faktor lingkungan sosial ini dapat dikenali maka kita dapat mengontrol tindakan agresif dengan merubah lingkungan sosial sesuai yang kita inginkan.

Kekerasan Fisik

Pada tahun 1985, di USA 10 % kamar kunjungan emergency di huni oleh anak di bawah 5 tahun yang disebabkan karena kekerasan fisik. Diperkirakan kasus akan bertambah menjadi 510 kasus baru / 1000 anak per tahun.
Efek psikologik pada anak yang mengalami kekerasan :

1.      Anhedonia

2.      Interaksi sosial yang buruk

3.      Kepercayaan diri yang buruk

4.      Pseudo-adult behaviour

5.      Penarikan diri dari lingkungan
6.      Penentang

7.      Curigaan

Efek dari Kekerasan

Orang-orang yang pernah mengalami trauma akan mengalami perasaan yang tidak menyenangkan, emosi yang bermacam-macam. Mereka kesulitan dalam mengendalikan emosi mereka.

American Psychiatric Association menemukan sindrom pertama yang dinamakan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) dimana sindrom ini berkembang pada korban-korban sehabis perang vietnam mereka merasa ketakutan bila melihat tentara Amerika. WHO pun akhirnya menggunakan istilah PTSD ini.
Kriteria PTSD :
1.     Memiliki pengalaman yang bisa menyebabkan stress pada setiap orang, sebagai contoh : kehilangan orang yang dicintainya, kekerasan terhadap orang tuanya, melihat pembunuhan orang yang dicintainya.

2.      Peristiwa tersebut seringkali dimimpikan oleh korban.

3.     Banyak sekali stimuli yang bisa mengingatkan korban akan kejadian yang telah dialaminya, dan korban berusaha untuk terus menghilangkan ingatannya. Korban kehilangan minat sexual dan hubungan dengan sekitar.

4.     Kesulitan untuk tidur, sulit berkonsentrasi, gampang emosional, mudah terusik.

Korban mudah depresi, cemas, takut, marah, agresif. Korban terkadang mencoba untuk menghilangkan atau mencari pengalihan dan pelarian ke rokok, alkohol, bahkan obat-obatan, padahal hal ini justru merusak dirinya sendiri. PTSD banyak sekali di alami oleh korban kekerasan, sebagai contoh korban perkosaan.
Dari hasil laporan penelitian, antara 25-50 % korban bencana alam seperti kecelakaan pesawat, tabrakan kereta api, kapal terbalik, tornado, kerusuhan korbannya akan menunjukkan tanda-tanda PTSD. Sebagai contoh, tsunami di Aceh telah menyebabkan banyak sekali orang-orang yang menderita PTSD karena ditinggalkan oleh sanak keluarga yang mereka cintai. Tanda-tanda psikopatologi ditunjukkan pada tahun pertama trauma, turun perlahan dalam 2-5 tahun, tapi bisa juga berefek sampai bertahun-tahun lamanya tergantung pada individu masing-masing.

Dampak-dampak dari Kekerasan

Definisi penyiksaan: pemberian rasa sakit yang parah, dengan tujuan memaksa seseorang akan sesuatu.
Simptom yang biasa ditemukan pada orang- orang yang mengalami penyiksaan: ganguan konsentrasi dan ingatan, sakit kepala, cemas, depresi, insomnia, mimpi buruk, emosional, disfungsi sex, penarikan diri dari lingkungan, apatis (PTSD)

Tindakan menyimpang seksual (sexual abuse) pada anak

Masih memerlukan waktu yang lama untuk masyarakat dan para profesional untuk mengetahui tindakan fisik yang menyimpang terhadap anak-anak secara langsung. Masih ada perbedaan pendapat tentang definisi  ”sexual abuse” sehingga membuat sulit untuk mengumpulkan bukti terhadap insiden dan prevalensi. Salah satu definisi yang sering dipakai untuk”sexual abuse” pada anak-anak adalah :”….Berhubungan erat dengan tanggungan, perkembangan anak-anak yang belum dewasa dan para remaja dalam aktivitas seksual dimana mereka belum memahami sepenuhnya, tidak mampu memberikan persetujuan dan melanggar larangan sosial dalam peranan keluarga”
definisi tersebut menggaris bawahi tindakan menyimpang dari kekuatan suatu hubungan keluarga sebagai pelaku kejahatan, dan secara tidak langsung menyatakan musnahnya suatu kepercayaan sama dengan menegaskan bahwa tingkat perkembangan seseorang anak harus lebih diperhatikan. Efek jangka pendek maupun jangka panjang dari ”sexual abuse” tergantung dari seberapa besar penyimpangan waktu itu terhadap tingkat perkembangan anak, sehingga jelas beratnya dan frekuensinya dari tindakan penyimpangan yang muncul.
Penelitian retropektif pada orang dewasa memberikan prevalensi tindakan penimpangan seksual 25-40% dibawah usia 18 tahun baik berasal dari intrafamilial dan extrafamilial. Hanya minoritas insiden yang melapor ke polisi. Penelitian cross-sectional, menggunakan suatu definisi yang melibatkan kontak menunjukkan estimasi yang lebih rendah tetapi rata-rata pelaporan meningkat secara dramatis dalam beberapa tahun terakhir ini. Anak perempuan lebih sering menjadi korban dibandingkan anak-anak laki-laki. Pada banyak kasus pelaku kejahatan itu dikenal oleh korban, baik anggota keluarga atau kenalan keluarga dan pada umumnya laki-laki. Anak-anak cenderung lebih cepat menyikapi tindakan menyimpang seksual terhadap orang asing, tetapi terhadap anggota keluarga sendiri sering ditutupi. Ketika tindakan menyimpang tersebut diketahui akan menimbulkan ketidakperyacaan dan tekanan terhadap anak tersebut untuk menarik kembali tuduhannya.
Peningkatan terhadap penyimpangan seksual terhadap anak-anak memberikan konsekuensi jangka panjang. Hal ini melibatkan masalah psikiatri yang memberi manifestasi pada masa dewasa. Semakin erat hubungan antara pelaku kejahatan dengan anak tersebut, maka semakin besar gangguan emosional anak tersebut, perzinaan ayah terhadap anak perempuannya merupakan masalah yang paling traumatik. Akibat yang lebih buruk yaitu berhubungan dengan pelaku kejahatan yang lebih tua dengan menggunakan tindakan kekerasan dan berulang yang dimulai dibawah usia 10 tahun. Efek jangka penjang terhadap penyesuaian diri dan hubungan interpersonal yang lebih luas.

Penyaksian anak terhadap tindakan kekerasan

Dua orang perintis terhadap topik yang diabaikan ini studi dari dora black dan temannya di Royal Free Hospital London terhadap anak-anak yang ayahnya membunuh ibu mereka dan mereka oleh Robert Pynoos dan karyawannya di Los Angeles terhadap anak-anak yang telah menjadi saksi suatu tindakan kekerasan yang luas jangkauannya.
Black dan Kaplan melaporkan 28 anak-anak dari 14 keluarga yang ayah membunuh ibu sering dihadapan anak-anak. Dengan kematian ibunya maka ayahnya berhak atas anaknya, anak-anak tersebut sementara tinggal dengan kakek dan nenek, mereka sendiri sedang dalam goncangan dan duka cita. Pada banyak kasus anak-anak yang memerlukan perhatian, mereka tidak bisa membahas apa yang terjadi dengan pengasuh baru, tidak bisa berduka cita dengan baik. Masalah pemeliharaan anak-anak sering tidak jelas dan ditinggalkan dirumah yatim piatu, tidak ada orang yang membantu meraka menjelaskan apa yang telah mereka saksikan dan juga tidak ada yang mendiskusikan hal tersebut.
Pynoos dan Eth mengakui bagaimana kesulitan sebagai dewasa untuk membicarakan kejadian yang sangat menyakitkan, apalagi membantu anak-anak dalam membicarakan hal tersebut. Anak-anak sering kaget setelah menyaksikan suatu pembunuhan, bunuh diri, pemerkosaan terhadap orang tua dan menunjukkan banyak gajala akut post trauma yang sebagai respon terhadap stress. Dimana salah satu orang tua meninggal, mereka juga harus mencoba mengendalikan kehilangan orang tua. Pynoos dan Eth menjelaskan teknik wawancara terhadap anak-anak secara praktis. Setelah peristiwa tersebut, jadi di samping membantu anak tersebut juga mempertahankan fungsi keluarga secara efektif. Nilai utama tidak terletak dari seberapa banyak data spesifik yang diperolehwalaupun nilai tersebut dipertimbangkan untuk siapa saja yang terpaksa dilibatkan dalam situasi yang tidak terduga ini, tetapi cukup untuk menegaskan apa yang anak-anak perlukan dan menghendakinya untuk berbagi masalah mereka, perasaan dan ketakutan mereka dangan orang dewasa yang asing dalam pekerjaan sosial. Dalam pengalaman banyak anak-anak merasa lega ketika menjelaskan kejadian secara rinci.

Kecelakaan lalu lintas

Kecelakaan rumah tangga dan lalu lintas merupakan penyebab utama mortalitas dan morbilitas pada anak-anak. Tiba-tiba kematian akibat trauma dari seorang anak dapat menjadi rumit dalam proses duka cita untuk kehidupan orang tua, sering berkepanjangan, reaksi kesedihan yang berlebihan. Secara klinik laporan di mana orang tua mempunyai kesulitan tertentu dengan kehilangan anak-anak remaja yang mereka asuh sejak kecil. Reaksi kesedihan sering bercampur dengan kemerahan yang luar biasa.
Orang tua dan anak-anak yang selamat pada kecelakaan lalulintas mengembangkan masalah psikologi yang luas, memberikan fobia terhadap berpergian, yang berkembang menjadi PTSD.

Sponsors

Resiko Pekerjaan


Lembaga kesehatan Amerika Serikat dan Keselamatan Eksekutif memperkenalkan, beberapa pekerjaan yang mempaparkan sejumlah orang ke faktor resiko yang lebih tinggi terhadap kekerasan daripada yang lain.
Pekerjaan tersebut termasuk polisi, penjaga penjara, karyawan kontraktor, pekerja sosial, perawat, guru, tukang pos, karyawan bar, penjaga rumah, karyawan transportasi, teller bank, karyawan kantor pos, petugas kesehatan juga termasuk yang beresiko. 15 dari 2000 petugas kesehatan telah mengalami cedera dalam melakukan tugas kesehatannya dalam 12 bulan.
Telah dilaporkan insiden kekerasan tergantung dari banyak faktor dan sebagian kecil insiden tidak dilaporkan. Banyak kekerasan yang dihadapi orang bersifat verbal atau ancaman dengan sedikit atau tanpa cedera. Meskipun demikian insiden ini dapat mempunyai efek pada korban yang melibatkan reaksi transien stress akut sampai PTSD. Beratnya reaksi psikologi seperti dipropokasi ketika resiko objektif muncul lagi di tempat kerja itu tinggi. Banyak tindakan kekerasan merupakan ancaman hidup jangka pendek, namun reaksi tersebut sangat mirip dengan PTSD. Akibat dari kekerasan saat kerja akan mempengaruhi korban dan keluarga mereka. Untuk mengatasainya dengan menyediakan pelayanan konseling atau pendekatan psikologi.

Pemerkosaan

Terdapat tiga faktor yang berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya distres psikologi yang berbentuk pemerkosaan. Luka pada tubuh, ancaman akan kekerasan  merupakan pemerkosaan total. Meskipun faktor resiko telah ditambahkan, distres psikologi merupakan faktor 3 kali lebih besar pada kasus pemerkosaan. Servei kejahatan inggris th 1984 melaporkan bahwa 4 dari 5 kasus pemerkosaan, korbannya oleh pria pemerkosaan ini pria dan wanita semua umur dan semua takut, kecemburuan sosial, miskin, grup memiliki resiko lebih meningkat. Sangat penting untuk pemerkosaan oleh orang asing dari
Diperkosa oleh orang asing lebih sering dilaporkan tapi dari semuanya hanya 5 – 20% yang dilaporkan. Pada kasus pemerkosaan oleh orang yang tak dikenal wanita sering khawatir bahwa mereka tidak akan dipercaya mereka juga takut beberapa faktor seorang mencegah keinginan memiliki untuk mencari pertolongan awal. Secara psikologis, korban pemerkosaan berpengaruh paling beser dibanding korban kejahatan lain. Telah dilaporkan bahwa 100% wanita korban pemerkosaan menderita 9 emosional efek tersebut bertahan lebih dari 2 th dan 57% timbul gejala PTSD setelah pemerkosaan. 16,5% masih menderita PTSD sampai 17 th kemudian. Efek psikologi dan fisik menjadi sangat luas beberapa diantara mereka umumnya merasa putus asa dan lepas kendali korban pemerkosaan oleh orang asing lebih berpusat pada perasaan aman, mereka sering merasa takut orang asing tersebut akan menyerang mereka kembali. Mereka yang diperkosa oleh orang yang tak dikenal sering merasa menyalahkan dirinya sendiri dan juga sering meragukan kemampuan mereka untuk memutuskan siapa yang pantas dipercaya. Pemerkosaan juga berpengaruh pada pekerjaan dan aktivitas sehari-hari hal ini sring merupakan hasil dan upaya menghindari pemerkosaan yang sering terjadi….pada kehidupan sehari-hari th/terhadap korban pemerkosaan telah ditingkatkan pada tahu-tahun terakhir. Mereka akan menerima pertolongan pertama dari pusat khusus pemerkosaan. Th/kelompok dan konseling pribadi dapat menguntungkan. Akhir-akhir ini, th/induvidual termasuk desensitisasi dan menggali kembali masa lalu yang berhubungan. Merupakan th/yang sukses untuk PTSD dan berpengaruh baik

Pemerkosaan wanita
Penindasan mendorong, menampar, pemukulan, penendangan, pencekikan, menggunakan pisau / pistol / usaha menenggelamkan. Diperkirakan ± 1,8 juta ditindas di USA. Penindasan merupakan penyebab terserang dari cedera pada wanita (16%) dibanding kecelakaan mobil (11%) dan hampir mendekati pemerkosaan dan percobaan bunuh diri kebanyakan wanita ditindas mendapat perlakuan yang berulang. Data tentang penindasan didapatkan dari saksi mata, rekam medis, cat dokter, laporan status kesehatan kebanyakan wanita ditindas kadang menyakiti diri sendiri mereka sering memilih pria yang kejam sebagai pasangan dan doktrin tentang ”menyalahkan korban” beberapa studi menemukan beberapa perbedaan antara wanita yang ditindas dengan yang lain dan perbedaan tersebut sepertinya kemudian hasil dari kekerasan daripada pemicunya. Seperti contoh, kecurigaan wanita yang ditindas dapat dilihat dari kesensitifan berlebihan terhadap bahaya pertengkaran yang terjadi dikarenakan oleh uang, sex, hak asuh anak / rumah tangga dimana mereka selalu beargumen tentang tugas wanita. Wanita yang ditindas (90%) dan yang selamat (75%) tidak memiliki riwayat sebagai anak yang ditindas. Bagaimanapun, pria yang mendapatkan kekerasan pada masa kecilnya lebih sering menjadi penindas. Wanita yang ditindas beresiko meningkat menjadi alkoholisme, bunuh diri dan sakit mental yang diikuti dengan hubungan yang kejam. Isi pada tabel 27.1 sangat mirip dengan PTSD, dan studi pada 77 wanita ditindas, 85%kriteria DSM III untuk PTSD. Tingkat gejala berhubungan dengan beratnya kekerasan fisik dan disres yang dirasakan tapi bukan dari lamanya waktu hubungan penindasan berjalan. PTSD meliputi gejala yang lebih ringan seperti paranoid shizofren dan gangguan kepribadian dan berdasarkan hasil tes standarisasi seperti MMP / sering terjadi misinterpretasi karena level disres pada wanita yang ditindas sangat meningkat.
Gejala dari wanita yang ditindas :

     Mimpi buruk

     Ketakutan bila mengingat kejadian

     Mengingat masa lalu
     Menarik dari lingkungan

     Agitasi
     Kecemasan

     Depresi

Intervensi pada wanita yang ditindas termasuk th/kelompok induvidual th/berdasarkan pada prinsip teori sosial th/situasi kelurga telah dicoba pada pria dan wanita bersama tapi pada pria th/kelompok lebih memberikan hasil. Proyek di Denver mengatakan bahwa penahanan dan semalam dipenjara merupakan hukuman yang cocok untuk penindasan. Penindasan yang terbukti bersalah harus mengikuti program terapi.24 – 48 minggu. Wanita yang ditindas lebih mau bersaksi jika pria menerima terapi

Kejahatan kekerasan
Lebih mudah mendapatkan persetujuan atas kejahatan daripada kejahatan kekerasan. Bagaimanapun, meskipun dengan perampokan, 60% korban kekerasan akan mengalami kelainan pada jiwanya. Kekerasan yang dibicarakan disini termasuk pembunuhan, pencurian, perampokan dan pemerkosaan. Pada studi kasus di USA terhadap 2700 orang, 14% diantaranya merupakan kerabat dekat mereka adalah seorang pelaku kejahatan, seperti kejahatn yang terjadi pada 6 bulan terakhir. Pada survei kejahatan di Inggris tahun 1984 menyatakan bahwa telah terjadi 635.000

Kejahatan Kekerasan
dimana data statistik polisi pada tahun yang sama hanya terdapat 153.000. Perbedaan yang besar antara kemungkinanan yang terjadi dengan yang dilaporkan. Hal yang  sama dilaporkan oleh USA dengan kecuali bunuh diri, data statistik resmi mengatakan bahwa terjadi kekerasan sebanyak 300 – 500%. Kekerasan terhadap anak-anak belum termasuk dalam estimasi diatas dan kekerasan dalam negeri sering tidak terdata.

Kejahatan dengan kekerasan lainnya

Meliputi perampokan, penganiayaan, serangan fisik dan pembunuhan. Kesemuanya memiliki efek pada korban maupun keluarga korban, penilitian terakhir melaporkan bahwa 26 % korban penganiayaan mengalami ketakutan yang mendalam, kehilangan percaya diri, 11 % depresi, stres, masalah tidur dan 5% nya berupa kemarahan yang mendalam. Pada pemerkosaan satu dari empat korban memerlukan dukungan psikologis dan pengembalian kepercayaan. 51% dalam kasus dimana korban mengenal baik pelaku kejahatan tekanan korban semakin meningkat.

Link: http://www.freewebs.com/psikopatologikekerasan/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: