Anak Dan Televisi

9 Jul

Anak Dan Televisi

Dr. Aswandi

PERILAKU menyimpang atau perilaku negative anak dan remaja mengisi headline media masa saat ini, seperti cara berpakaian dan penggunaan asessoris dinilai tidak sopan atau tidak etis, pemerkosaan, perilaku kekerasan, agresif dan bunuh diri yang dilakukan oleh anak dan para remaja dari hari ke hari meningkat dan membuat kita bertanya “gejala apa dan mengapa hal ini terjadi?”

Bagi penulis tidaklah mudah untuk menjawab persoalan tersebut. Namun tidaklah berarti kita harus lari tanpa mau berusaha menjawab persoalan generasi pewaris atau pemilik bangsa ini, melainkan berusaha menemukan akar permasalahannya, dan sekali lagi menyelesaikan masalah tersebut tidaklah mudah.

Mahatma Ghandi mengatakan kekerasan atau perilaku agresif lainnya hanya bisa dihapuskan apabila kita tahu akar penyebabnya, kemudian mau dan berani menghadapi, memutuskan mata rantai yang mendorong kekerasan itu terjadi. Jika tidak maka kekerasan lain akan terjadi, dan akhirnya dunia akan jatuh ke dalam spiral kekerasan (Carmara, 2000).

Apalagi anak yang menjadi topic pembicaraan kita saat ini adalah generasi pemilik dan penerus bangsa yang berasal dari surga dan kepadanya kita berharap. John Gray (2000) mengatakan bahwa semua anak berasal dari surga, artinya semua anak dilahirkan dalam keadaan baik dan tak berdosa, kemudian menjadi jahat dan keras kepala sebagai akibat dari sebuah proses yang dipelajarinya.

Toffler (1989) mengatakan bahwa sebuah peradaban baru sedang tumbuh dalam kehidupan kita, yakni sebuah peradaban yang membawa gaya kehidupan keluarga, mengubah cara kerja, cara bercinta, cara hidup, cara berbusana, cara bergaul, membawa tatanan ekonomi baru, konflik politik baru, dan di atas semua ini juga mengubah kesadaran manusia, dan merubah perilaku anak dan remaja kita.

Ia menyebutnya sebagai era gelombang ketiga, era globalisasi, dan era telekomunikasi, yakni suatu era dimana media telah masuk ke rumah kita masing-masing, bahkan disinyalir video porno sudah masuk ke rumah-rumah kita sekarang ini. Mengapa bergemingpun tidak kita ini?, boleh jadi syaraf kita sudah putus dan sedang mengerut atau Allah Swt sudah tidak sayang lagi kepada kita, karena diberi peringatan atau tidak sama saja.

Diduga media televisi (18,3% telah dimiliki oleh rakyat

Indonesia

) memberikan dampak atau pengaruh yang signifikan terhadap perilaku negative pada anak dan oleh karena itu diperlukan kecerdasan dan kearifan kita sebagai pengguna hasil teknologi tinggi tersebut.

Benarkan televisi menjadi penyebab perilaku negatif atau kekerasan anak. Untuk itu ada baiknya dikemukakan beberapa pengkajian, diantaranya (1) penelitian paling menarik mengenai perilaku anak di berbagai wilayah sebelum dan sesudah masuknya televisi. Pada tahun 1970an Dr. Tannis Macbeth Willems dan para peneliti lainnya dari Universitas British

Columbia

membandingkan tingkat kekerasan pada anak kelas satu dan dua sekolah dasar dari dua kotaKanada, yang satu mempunyai TV dan yang lain tidak bisa menerima TV karena terhalang deretan pegunungan. Ketika kota pegunungan itu akhirnya bisa menerima televisi, tingkat pukul memukul, gigit menggigit, dan dorong mendorong pada anak itu meningkat sebesar 160%; (2) Di tahun 1993 pengumpulan pendapat yang dilakukan “Los Angeles Time” mengungkapkan bahwa 4 dari 5 (80%) orang Amerika menganggap kekerasan di televisi membawa pengaruh terhadap kekerasan dalam dunia nyata. Presiden Amerika Serikat Bill Clinton menjadikan isu “Anak-Anak dan Televisi” sebagai tema kampanye di dua kali masa jabatannya, dan dengan tema tersebut pula mengantarkannya sebagai presiden Amerika Serikat yang memberi harapan; (3) para psikolog Universitas Michigan dengan dikomandani oleh Dr. Leonard Eron dan Dr. Rowell Huesmann, selama beberapa dasawarsa mengikuti kebiasaan menonton pada kelompok anak. Mereka mendapati bahwa menonton kekerasan di TV merupakan faktor yang paling dekat hubungannya dengan perilaku kekerasan atau agresif, melebihi faktor kemiskinan, ras atau perilaku orang tua.

Di tahun 1960, Eron memulai pengkajian longitudinal yang luar biasa terhadap sekitar 800 anak usia delapan tahun. Ia mendapati anak yang berjam-jam menonton televisi keras cendrung agresif di ruang kelas maupun di tempat bermain. 11 dan 22 tahun kemudian peneliti tersebut mengecek kembali anak-anak ini dan mendapatkan anak usia 8 tahun yang agresif tadi menjadi jauh lebih agresif ketika mencapai usia 19 dan 30 tahun serta membuat masalah lebih besar, baik dalam rumah tangga maupun di masyarakat. Bahkan peneliti ini juga mendapati bahwa sekalipun seseorang anak tidak agresif pada usia 8 tahun, tetapi menonton acara kekerasan di TV dalam jumlah cukup banyak, ia akan menjadi lebih agresif pada usia 19 tahun dibanding rekan-rekan sebaya yang tidak menyaksikan kekerasan di TV.

Hingga saat merampungkan kelas VI, anak Amerika rata-rata menyaksikan 100.000 tindak kekerasan, termasuk 8.000 pembunuhan yang ditayangkan di televisi, rata-rata dalam satu jam program televisi anak-anak terdapat 26% tindak kekerasan. Garin Nugroho (2004) mengatakan pasca 2000 dengan bertambahnya tiga stasiun televisi baru terjadi pertumbuhan pesat program siaran, lebih dari 60% program mereka berciri penuh kekerasan, erotis, vulgar dengan tema seks, goyang dan manipulasi emosi; Dan penulis pernah mendengar pemirsa luar atau negara tetangga kita takut menyaksikannya.

Bukti-bukti empiris sebagaimana di atas terjadi dalam setting negera Amerika, Eropa, dan Timur Tengah. Bagaimana di Indonesia, tampaknya tidaklah persis sama untuk dikatakan tidak berbeda. Hal ini dapat dilihat dari kepadatan pesawat TV; Amerika (77,6%), Kanada (65,6%), dan

Indonesia

(18,3%). Dalam rumah tangga Amerika yang mempunyai anak, pesawat televisi menyala rata-rata hampir 60 jam seminggu atau 8,5 jam sehari. Dalam rumah berpenghuni tunggal, pesawat itu menyala rata-rata selama 40 jam seminggu atau hampir 6 jam sehari (Chen, 1996). Tradisi atau maniak nonton TV pada anak di kota-kota besar

Indonesia

cukup tinggi, yakni 5 jam atau 300 menit. Jauh lebih lama dibandingkan waktu yang digunakan untuk membaca, yakni 43 menit, semestinya lama waktu ideal untuk membaca buku bagi setiap orang adalah 1800 menit (30 jam) perminggu atau 257 menit perhari (Holt, 2004). Menutup uraian ini penulis kutipkan pernyataan Fred Rogers salah seorang entertainment dunia, yakni “barangkali televisi adalah satu-satunya peralatan elektronik yang lebih bermanfaat justru setelah dimatikan”

(penulis adalah dosen FKIP UNTAN dan

Direktur

Educational

Advocacy

Center

, 08125768770)

Link: fkip.untan.ac.id/index.php?artikel=artikelview&id=13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: