APA INI JUDI???

6 Jul

Misalkan saya mencetak sebuah buku bertema "A" sebanyak 10.000 Eksemplar.
Setelah dikalkulasi, saya akan mengecernya seharga Rp 14.000 per eksemplar. Dengan harga ini saja, saya sudah memperoleh keuntungan besar.

Tetapi karena ada undian, saya naikkan harganya menjadi Rp. 15.000 per eksemplar. Setiap pembeli diminta untuk menulis nama dan alamat pada kupon kosong yang diselipkan pada buku.Berarti ada tambahan margin keuntungan sebesar Rp 1.000

Uang yang seribu rupiah itu dikumpulkan, sehingga terkumpul sebanyak Rp 10 Juta (dengan asumsi, buku habis). Lalu diundilah kupon2 itu dengan ketentuan hadiah I, hadiah II, sampai hadiah V.

Yang menjadi pertanyaan, apakah itu termasuk perjudian?

Salam,

Nasrullah Idris

 

Klo kata saya sih lebih baik ditinggalkan cara seperti itu Mas nasrullah..
Ini ada sedikit referensi dari milis sebelah, analoginya hampir sama.
Silakan pertimbangkan sendiri :

Sebuah undian bisa menjadi judi manakala ada keharusan bagi peserta untuk membayar sejumlah uang atau nilai tertentu kepada penyelenggara.Dan dana untuk menyediakan hadiah yang dijanjikan itu didapat dari dana yang terkumpul dari peserta undian. Maka pada saat itu jadilah undian itu sebuah bentuk lain dari perjudian yang diharamkan.

Contoh Sayembara Yang Diharamkan
Sebuah yayasan menyelenggarakan kuis berhadiah, namun untuk bisa mengikuti kuis tersebut, tiap peserta diwajibkan membayar biaya sebesar Rp. 5.000,-. Peserta yang ikutan jumlahnya 1 juta orang.
Dengan mudah bisa dihitung berapa dana yang bisa dikumpulkan oleh yayasan tersebut, yaitu 5 milyar rupiah. Kalau untuk pemenang harus disediakan dana pembeli hadiah sebesar 3 milyar, maka pihak yayasan masih mendapatkan untung sebesar 2 Milyar.

Bentuk kuis berhadiah ini termasuk judi, sebab hadiah yang disediakan semata-mata diambil dari kontribusi peserta.

Contoh Sayembara Yang Dihalalkan

Sebuah toko menyelenggarakan undian berhadiah bagi pelanggan / pembeli yang nilai total belanjanya mencapai Rp. 50.000. Dengan janji hadiah seperti itu, toko bisa menyedot pembeli lebih besar -misalnya- 2 milyar rupiah dalam setahun. Pertambahan keuntungan ini bukan karena adanya kontribusi dari pelanggan / pembeli sebagai syarat ikut undian. Melainkan
dari bertambahnya jumlah mereka.

Hadiah yang dijanjikan sejak awal memang sudah disiapkan dananya dan meskipun pihak toko tidak mendapatkan keuntungan yang lebih, hadiah tetap diberikan. Maka dalam masalah ini tidaklah disebut sebagai perjudian.

Hal lain yang bisa dikatakan bahwa cara ini tidak disebut sebagai judi adalah karena pembeli ketika mengeluarkan uang sebesar Rp. 50.000, sama sekali tidak dirugikan, karena barang belanjaan yang mereka dapatkan dengan uang itu memang sebanding dengan harganya.

Hukumnya bisa menjadi haram manakala barang yang mereka dapatkan tidak sebanding dengan uang yang mereka keluarkan. Misalnya bila seharusnya harga sebatang sabun itu Rp. 5.000,-, lalu karena ada program undian berhadiah, dinaikkan menjadi Rp. 6.000,-. Sehingga bisa dikatakan ada biaya di luar harga sesungguhnya yang dikamuflase sedemikian rupa yang pada hakikatnya tidak lain adalah uang untuk memasang judi.

Wassalam

Ixsan

 

Sedikit urun rembug. Beberapa contoh dari Ihsan memang benar, tetapi tetap ada
yang sedikit keliru, yakni soal sayembara yang dihalalkan.

Penjelasan itu sedikit banyak mengaburkan makna judi yang sebenarnya. Kalau
penjualan sebuah produk disertai dengan hadiah, dan untuk memperoleh hadiah
itu harus ada undian, saya kira itu tetap judi. Di

sana

, tetap ada faktor
untung atau tidak untung yang diperoleh tanpa sebuah usaha. Lain halnya,
misalnya, semua pembeli memperoleh hak yang sama, tanpa ada faktor undian,
itu baru hadiah dan bukan judi. Jadi kalau mau adain bulan promosi, misalnya
setiap pembelian sepuluh buku akan memperoleh hadiah sebuah buku judul lain,
itu baru bebas judi namanya.

Tapi kenapa sih penjualan buku harus dirangsang dengan undian berhadiah?
Perkara begini ini mengingatkan saya kepada pernyataan Nuscholish Madjid
ketika melihat orang meminta-minta dana pembangunan masjid di pinggir jalan.
Orang membangun masjid

kan

dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas dan
kemandirian umat. Kenapa untuk memperbaiki kemandirian harus dilakukan dengan
cara meminta-minta? Cita-cita untuk membangun masjid itu sudah langsung
dipatahkan sejak awal karena ingin memperoleh dana itu.

Buku juga dimaksudkan untuk menambah wawasan dan mencerdaskan pembaca sehingga
lebih kreatif menghadapi hidup. Kenapa upaya mulia ini harus dibarengi dengan
semangat berjudi: semangat untuk memperoleh sesuatu tanpa kerja keras?

Wassalam,
nur hidayat

 

Hal yang diungkapkan diatas ditinjau dari sudut pandang aga ma, bukan dari sudut pandang Hukum.

Salam.

Devi R. A   (Eks. UNPAD Debater)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: