CINTA LAKI-LAKI BIASA

25 Jun

CINTA LAKI-LAKI BIASA

 

Karya Asma Nadia dari kumpulan cerpen Cinta
Laki-laki Biasa

 

 

MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit
mengungkapkan alasan kenapa

dia mau

menikah dengan lelaki itu. Baru setelah
menengok ke belakang, hari-hari

yang

dilalui, gadis cantik itu sadar,
keheranan yang terjadi bukan semata

miliknya, melainkan menjadi milik banyak
orang; Papa dan Mama,

kakak-kakak,

tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka
ternyata sama herannya.

 

"Kenapa?" tanya mereka di hari
Nania mengantarkan

surat

undangan.

 

Saat itu teman-teman baik Nania sedang
duduk di kantin menikmati

hari-hari

sidang yang baru saja berlalu.

Suasana sore di kampus sepi.

Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis
itu.

 

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah,
lalu matanya berpijar bagaikan

lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk
merangkai kata-kata yang

barangkali

beterbangan di otak melebihi kapasitas.
Mulut Nania terbuka.

 

Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang
keluar dari

sana

.
Ia hanya

menarik

nafas, mencoba bicara dan menyadari, dia
tak punya kata-kata!

 

Dulu gadis berwajah indo itu mengira
punya banyak jawaban, alasan detil

dan

spesifik, kenapa bersedia menikah dengan
laki-laki itu. Tapi kejadian

di

kampus adalah kali kedua Nania yang
pintar berbicara

mendadak gagap.

 

Yang pertama terjadi tiga bulan lalu
saat Nania menyampaikan keinginan

Rafli

untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania
dianggap momen yang tepat

karena

semua berkumpul, bahkan hingga generasi
ketiga, sebab kakak-kakaknya

yang

sudah berkeluarga membawa serta buntut
mereka.

 

"Kamu pasti bercanda!"

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang
tersungging di wajah kakak

tertua,

disusul senyum serupa dari kakak nomor
dua, tiga, dan terakhir dari

Papa dan

Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka
serius ketika mengira Nania

bercanda.

 

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan
keponakan-keponakan Nania yang

balita melongo dengan gigi-gigi mereka
yang ompong. Semua menatap

Nania!

"Nania serius!" tegasnya
sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli

memang

melamarnya.

 

"Tidak ada yang lucu," suara
Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira

Rafli

berani melamar anak Papa yang paling
cantik!"

 

Nania tersenyum. Sedikit lega karena
kalimat Papa barusan adalah

pertanda

baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya
benar sebab setelah itu

berpasang-pasang mata kembali
menghujaninya, seperti tatapan mata penuh

selidik seisi ruang pengadilan pada
tertuduh yang duduk layaknya

pesakitan.

 

"Tapi Nania tidak serius dengan
Rafli,

kan

?"
Mama mengambil inisiatif

bicara, masih seperti biasa dengan nada
penuh wibawa, "maksud Mama

siapa

saja boleh datang melamar siapapun, tapi
jawabannya tidak harus iya,

toh?"

 

Nania terkesima.

"Kenapa?"

 

Sebab kamu gadis Papa yang paling
cantik.

Sebab kamu paling berprestasi
dibandingkan kami. Mulai dari ajang

busana,

sampai lomba beladiri. Kamu juga juara
debat bahasa Inggris, juara baca

puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi
kamu meraih gelar insinyur.

Bakatmu

yang lain pun luar biasa.

Nania sayang, kamu bisa mendapatkan
laki-laki manapun yang kamu mau!

 

Nania memandangi mereka, orang-orang
yang amat dia kasihi, Papa,

kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub
dengan rentetan panjang uraian

mereka

atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan
Nania lontarkan.

 

"Nania Cuma mau Rafli,"
sahutnya pendek dengan airmata mengambang di

kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan
sekadar tidak suka, melainkan

sangat

tidak menyukai Rafli.

Ketidaksukaan yang mencapai stadium
empat. Parah.

 

"Tapi kenapa?"

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari
keluarga biasa, dengan

pendidikan

biasa, berpenampilan biasa, dengan
pekerjaan dan gaji yang amat sangat

biasa.

 

Bergantian tiga saudara tua Nania
mencoba membuka matanya. "Tak ada

yang

bisa dilihat pada dia, Nania!"

 

Cukup! Nania menjadi marah. Tidak pada
tempatnya ukuran-ukuran duniawi

menjadi parameter kebaikan seseorang
menjadi manusia. Di mana iman, di

mana

tawakal hingga begitu mudah menentukan
masa depan seseorang dengan

melihat

pencapaiannya hari ini?

 

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka
mulut dan membela Rafli.

Barangkali

karena Nania memang tidak tahu bagaimana
harus membelanya. Gadis itu

tak

punya fakta dan data konkret yang bisa
membuat Rafli tampak ‘luar

biasa’.

Nania Cuma punya idealisme berdasarkan
perasaan yang telah menuntun

Nania

menapaki hidup hingga umur duapuluh
tiga. Dan nalurinya menerima Rafli.

Di

sampingnya Nania bahagia.

 

Mereka akhirnya menikah.

 

***

 

Setahun pernikahan.

 

Orang-orang masih sering menanyakan hal
itu, masih sering

berbisik-bisik di

belakang Nania, apa sebenarnya yang dia
lihat dari Rafli. Jeleknya,

Nania

masih belum mampu juga menjelaskan
kelebihan-kelebihan Rafli agar

tampak di

mata mereka.

 

Nania hanya merasakan cinta begitu besar
dari Rafli, begitu besar

hingga

Nania bisa merasakannya hanya dari
sentuhan tangan, tatapan mata, atau

cara

dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana
yang membuat perempuan itu sangat

bahagia.

"Tidak ada lelaki yang bisa
mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania."

 

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa
keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang
lekat, mata mereka terlihat tak

percaya.

"Nia, siapapun akan mudah mencintai
gadis secantikmu!"

"Kamu adik kami yang tak hanya
cantik, tapi juga pintar!"

"Betul. Kamu adik kami yang cantik,
pintar, dan punya kehidupan

sukses!"

 

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap
memprotes.

Dan kali ini dilakukannya
sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan

Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu
beradu argumen.

 

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!

Betul. Tapi dia juga tidak ganteng

kan

?

Rafli juga pintar!

Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.

Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses.
Tidak sepertimu.

 

Seolah tak ada apapun yang bisa
meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik

mereka

beruntung mendapatkan suami seperti
Rafli. Lagi-lagi percuma.

"Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat
Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu

bahkan

tidak perlu lelaki untuk
menghidupimu."

 

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu
semua.

Padahal adik mereka sudah menikah dan
sebentar lagi punya anak.

Ketika

lima

tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak
juga berhenti.

Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki
dua orang anak, satu lelaki dan

satu

perempuan. Keduanya menggemaskan.

Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka
memiliki anak-anak. Padahal

itu

tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari
cukup untuk hidup senang.

 

"Tak apa," kata lelaki itu,
ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu

memforsir diri.

"Gaji Nania cukup, maksud Nania
jika digabungkan dengan gaji Abang."

 

Nania tak bermaksud menyinggung hati
lelaki itu. Tapi dia tak perlu

khawatir

sebab suaminya yang berjiwa besar selalu
bisa menangkap hanya maksud

baik.

"Sebaiknya Nania tabungkan saja,
untuk jaga-jaga. Ya?"

 

Lalu dia mengelus pipi Nania dan
mendaratkan kecupan lembut. Saat itu

sesuatu seperti kejutan listrik
menyentakkan otak dan membuat pikiran

Nania

cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak
orang. Bahagia!

 

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki
biasa, dari keluarga biasa,

dengan

pendidikan biasa, berpenampilan biasa,
dengan pekerjaan dan gaji yang

amat

sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan
Nania.

Sebab ketika bahagia, alasan-alasan
menjadi tidak penting.

 

Menginjak tahun ketujuh pernikahan,
posisi Nania di kantor semakin

gemilang,

uang mengalir begitu mudah, rumah Nania
besar, anak-anak pintar dan

lucu,

dan Nania memiliki suami terbaik di
dunia. Hidup perempuan itu berada

di

puncak!

 

Bisik-bisik masih terdengar, setiap
Nania dan Rafli melintas dan

bergandengan mesra. Bisik orang-orang di
kantor, bisik tetangga kanan

dan

kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik
Papa dan Mama.

 

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya
cantik.

Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

 

Dulu bisik-bisik itu membuatnya
frustrasi. Sekarang pun masih, tapi

Nania

belajar untuk bersikap cuek tidak
peduli. Toh dia hidup dengan perasaan

bahagia yang kian membukit dari hari ke
hari.

 

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania
masih belum bergeser dari

puncak.

Anak-anak semakin besar. Nania
mengandung yang ketiga. Selama kurun

waktu

itu, tak sekalipun Rafli melukai hati
Nania, atau membuat Nania

menangis.

 

***

 

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau
keluar. Sudah lewat dua minggu

dari

waktunya.

"Plasenta kamu sudah
berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera

dikeluarkan!"

 

Mula-mula dokter kandungan langganan
Nania memasukkan sejenis obat ke

dalam

rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan
kontraksi hebat hingga perempuan

itu

merasakan sakit yang teramat sangat.
Jika semuanya normal, hanya dalam

hitungan jam, mereka akan segera melihat
si kecil.

 

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat
tidur Nania di rumah sakit. Hanya

waktu-waktu shalat lelaki itu
meninggalkannya sebentar ke kamar mandi,

dan

menunaikan shalat di sisi tempat tidur.
Sementara kakak-kakak serta

orangtua

Nania belum satu pun yang datang.

 

Anehnya, meski obat kedua sudah
dimasukkan, delapan jam setelah obat

pertama, Nania tak menunjukkan
tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit

dan

melilit sudah dirasakan Nania per

lima

menit, lalu tiga
menit. Tapi

pembukaan berjalan lambat sekali.

 

"Baru pembukaan satu."

"Belum ada perubahan, Bu."

"Sudah bertambah sedikit,"
kata seorang suster empat jam kemudian

menyemaikan harapan.

 

"Sekarang pembukaan satu lebih
sedikit."

Nania dan Rafli berpandangan. Mereka
sepakat suster terakhir yang

memeriksa

memiliki sense of humor yang tinggi.

 

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru
pembukaan dua.

Ketika pembukaan pecah, didahului
keluarnya darah, mereka terlonjak

bahagia

sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti
setelah ketuban pecah.

Perkiraan mereka meleset.

 

"Masih pembukaan dua, Pak!"

Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa
menghibur karena rasa sakit

yang

sudah tak sanggup lagi ditanggungnya.
Kondisi perempuan itu makin

payah.

Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

 

"Bang?"

Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang
istri memperjuangkan dua

kehidupan.

 

"Dokter?"

"Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin
terlilit tali pusar."

 

Mungkin?

Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa
tidak dari tadi kalau begitu?

Bagaimana

jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha
mengusir kekhawatiran. Ia senang

karena

Rafli tidak melepaskan genggaman
tangannya hingga ke pintu kamar

operasi.

Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

 

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke
ruangan serba putih. Sebuah

sekat

ditaruh di perutnya hingga dia tidak
bisa menyaksikan ketrampilan

dokter-dokter itu.

Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa
berada dalam perahu yang diguncang

ombak. Berayun-ayun.

Kesadarannya naik-turun. Terakhir,
telinga perempuan itu sempat

menangkap

teriakan-teriakan di sekitarnya, dan
langkah-langkah cepat yang

bergerak,

sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

 

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar
Rafli bisa menciumnya. Bibir

lelaki

itu tak berhenti melafalkan zikir.

 

Seorang dokter keluar, Rafli dan
keluarga Nania mendekat.

"Pendarahan hebat."

Rafli membayangkan sebuah sumber air
yang meluap, berwarna merah.

Ada

varises di
mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana

pecah!

 

Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam
kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis.
Papa termangu lama sekali.

Saudara-saudara Nania menyimpan isak,
sambil menenangkan orangtua

mereka.

 

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang
berbeda.

Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada
rasa cemas yang mengalir di

pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa
dihentikan, menyebar dan meluas

cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa
bagi Nania.

 

***

 

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama
itu Rafli bolak-balik dari

kediamannya ke rumah sakit. Ia harus
membagi perhatian bagi Nania dan

juga

anak-anak. Terutama anggota keluarganya
yang baru, si kecil. Bayi itu

sungguh menakjubkan, fisiknya sangat
kuat, juga daya hisapnya. Tidak

sampai

empat hari, mereka sudah oleh membawanya
pulang.

 

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania
terkadang ikut menunggui Nania di

rumah

sakit, sesekali mereka ke rumah dan
melihat perkembangan si kecil.

Walau tak

banyak, mulai terjadi percakapan antara
pihak keluarga Nania dengan

Rafli.

 

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris
tak pernah meninggalkan rumah

sakit, kecuali untuk melihat anak-anak
di rumah. Syukurnya pihak

perusahaan

tempat Rafli bekerja mengerti dan
memberikan izin penuh. Toh, dedikasi

Rafli

terhadap kantor tidak perlu diragukan.

 

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan
malam.

Dibawanya sebuah Quran kecil,
dibacakannya dekat telinga Nania yang

terbaring di ruang ICU.

Kadang perawat dan pengunjung lain yang
kebetulan menjenguk sanak

famili

mereka, melihat lelaki dengan penampilan
sederhana itu bercakap-cakap

dan

bercanda mesra.

 

Rafli percaya meskipun tidak mendengar,
Nania bisa merasakan

kehadirannya.

"Nania, bangun, Cinta?"

Kata-kata itu dibisikkannya
berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi

dan

kening istrinya yang cantik.

 

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak
keluarga mulai pesimis dan

berfikir

untuk pasrah, Rafli masih berjuang.
Datang setiap hari ke rumah sakit,

mengaji dekat Nania sambil menggenggam
tangan istrinya mesra.

 

Kadang lelaki itu membawakan buku-buku
kesukaan Nania ke rumah sakit

dan

membacanya dengan suara pelan.Memberikan
tambahan di bagian ini dan

itu.

Sambil tak bosan-bosannya berbisik,
"Nania, bangun, Cinta?"

 

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli
dalam sujud dan permohonan.

Asalkan

Nania sadar, yang lain tak jadi soal.
Asalkan dia bisa melihat lagi

cahaya

di mata kekasihnya, senyum di bibir
Nania, semua yang

menjadi sumber semangat bagi orang-orang
di sekitarnya, bagi Rafli.

 

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran
Nania. Anak-anak merindukan

ibunya. Di

luar itu Rafli tak memedulikan yang
lain, tidak wajahnya yang lama tak

bercukur, atau badannya yang semakin
kurus akibat sering lupa makan.

 

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua
antusias perempuan itu di mata,

gerak

bibir, kernyitan kening, serta
gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya

yang

cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

 

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli
terjawab. Nania sadar dan wajah

penat

Rafli adalah yang pertama ditangkap
matanya.

 

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis,
menggenggam tangan Nania dan

mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan
syukur berulang-ulang dengan

airmata yang meleleh. Asalkan Nania
sadar, semua tak penting lagi.

 

Rafli membuktikan kata-kata yang
diucapkannya beratus kali dalam doa.

Lelaki

biasa itu tak pernah lelah merawat Nania
selama sebelas tahun terakhir.

Memandikan dan menyuapi Nania, lalu
mengantar anak-anak ke sekolah satu

per

satu. Setiap sore setelah pulang kantor,
lelaki itu cepat-cepat menuju

rumah

dan menggendong Nania ke teras, melihat
senja

datang sambil memangku Nania seperti
remaja belasan tahun yang sedang

jatuh

cinta.

 

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar
cantik sebelum tidur.

Membersihkan

wajah pucat perempuan cantik itu,
memakaikannya gaun tidur. Ia ingin

Nania

selalu merasa cantik. Meski seringkali
Nania mengatakan itu tak perlu.

Bagaimana bisa merasa cantik dalam
keadaan lumpuh?

 

Tapi Rafli dengan upayanya yang
terus-menerus dan tak kenal lelah

selalu

meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan
percaya bahwa dialah perempuan

paling cantik dan sempurna di dunia.
Setidaknya di mata Rafli.

 

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka
sekeluarga jalan-jalan keluar.

Selama itu pula dia selalu menyertakan
Nania. Belanja, makan di

restoran,

nonton bioskop, rekreasi ke manapun
Nania harus ikut.

Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan
hal yang sama, selalu

melibatkan

Nania. Begitu bertahun-tahun.

 

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih
dengan pandangan orang-orang di

sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya
iba, lebih-lebih pada Rafli

yang

berkeringat mendorong kursi roda Nania
ke

sana

kemari. Masih dengan senyum hangat di
antara wajahnya yang bermanik

keringat.

 

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka,
orang-orang yang ditemuinya di

jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat,
dan teman-teman Nania tak puas

hanya

memberi pandangan iba, namun juga
mengomentari, mengoceh, semua

berbisik-bisik.

 

"Baik banget suaminya!"

"Lelaki lain mungkin sudah cari
perempuan kedua!"

"Nania beruntung!"

"Ya, memiliki seseorang yang menerima
dia apa adanya."

"Tidak, tidak cuma menerima apa
adanya, kalian lihat bagaimana suaminya

memandang penuh cinta. Sedikit pun tak
pernah bermuka masam!"

 

Bisik-bisik serupa juga lahir dari
kakaknya yang tiga orang, Papa dan

Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan
sempat membuat Nania makin

frustrasi,

merasa tak berani, merasa?

 

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania
menyadari itu kemudian. Orang-orang

di

luar mereka memang tetap berbisik-bisik,
barangkali selamanya akan

selalu

begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik
itu kini berbeda bunyi?

 

Dari teras Nania menyaksikan
anak-anaknya bermain basket dengan ayah

mereka.

Sesekali perempuan itu ikut tergelak
melihat kocak permainan.

 

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania
menghitung-hitung semua,

anak-anak

yang beranjak dewasa, rumah besar yang
mereka tempati, kehidupan yang

lebih

dari yang bisa dia syukuri. Meski
tubuhnya tak berfungsi sempurna.

Meski

kecantikannya tak lagi sama karena usia,
meski karir telah direbut

takdir

dari tangannya.

 

Waktu telah membuktikan segalanya.

Cinta luar biasa dari laki-laki biasa
yang tak pernah berubah, untuk

Nania.

 

============

Diketik ulang
oleh Juli Prasetio Utomo, 28 Juni 2005

3 Tanggapan to “CINTA LAKI-LAKI BIASA”

  1. JoHaN 26/06/2006 pada 1:04 am #

    Subhanallah,,,,
    Jujur,,, Joe baca ceritanya ampe merinding terus meneteskan air mata keharuan yang mendalam… TOOOOOP TOP TOOOOP deh ceritanya,,, Pengen banget dech punya pendamping hidup seperti itu,,, yang bisa dan mau menerima kita apa adanya,,, sekali lagi,,, ceritanya TOP BGT.

  2. D-Vie 26/06/2006 pada 11:08 pm #

    🙂
    Semoga Jo diberikan bidadari yang akan menemani di dunia dan akhirat nanti. Amin.

  3. JoHaN 10/07/2006 pada 4:27 am #

    Amin-Amin…. Btw, berhubung ceritanya bagus banget, aku cantumin di blogsitenya aku juga yah,,,, Gpp khan,,,, hehehehe.. Piss Men, Tempat Pipis dimana men???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: