Literasi, Properti, Jatidiri (Bentuk Kapitalisme Lain)

15 Jun

Literasi, Properti, Jatidiri

 

Sofie Dewayani*

 

Nanik bukanlah
seorang guru di sekolah berlantai keramik, yang sibuk mencari tambahan dengan
memberi les privat di sore hari. Sekolahnya berlantai semen, dindingnya muram
berhias satu-dua gambar pahlawan yang diam. Tak ada karya-karya anak di sana,
atau gambar warna-warni, bulletin board, poster, apalagi semboyan pemicu
semangat belajar. Sekolahnya yang menyendiri di pinggiran sawah di pelosok kota
kecil Krian terasa gerah, bukan karena jalan batu di depannya berdebu, namun
karena anak-anak duduk berdesakan, tiga-empat orang, berbagi satu bangku, satu
buku, dan juga keringat yang bau. Janganlah berbicara tentang perpustakaan,
karena Nanik harus membiarkan buku pelajaran yang hanya beberapa gelintir itu
lusuh akibat harus dipakai bergantian. Di pertengahan tahun 2004, saat banyak
sekolah di kota-kota besar menyambut rencana kurikulum baru berbasis kompetensi
dengan antusias, Nanik mendengarnya diam-diam. Matanya menerawang, beku seperti
sorot mata gambar pahlawan, kosong seperti pandangan mata anak-anak di kelasnya
saat menyimak pelajaran.

 

“Anak-anak harus
belajar aktif ya? Harus diskusi?” bisiknya lirih, teringat sebuah acara debat
di televisi. Belajar aktif, diskusi, dia membatin lagi, seperti mengejanya
untuk pertama kali. Mungkin dia tak percaya kata-kata itu menjelma nyata, tak
hanya terpampang di koran atau layar kaca. Pendidikan SPG yang ditempuhnya tak
pernah mengajarkannya untuk bebas berpendapat. Ilmu tersaji untuk dipelajari,
mengapa harus didebat? Bagaimana bisa mengajak murid-muridnya untuk berpikir
kritis, kalau dia sendiri tak pernah punya waktu untuk berdiskusi? Sesampai di
rumah, setumpuk pe-er dan ulangan sudah menanti untuk dikoreksi. Lalu dia harus
belanja ke pasar, membuat kue untuk dijual di kantin sekolah esok hari. Mengapa
menjadi guru itu seperti terengah-engah rasanya, banyak tuntutan tak bisa
dipenuhinya? Murid-murid di kelasnya pun sama seperti dirinya. Mereka menatap
kemiskinan dengan menyimpan keluh diam-diam, tanpa banyak bertanya, apalagi
mendiskusikannya. Sekarang, Nanik harus merenungi apa maknanya menjadi
kompeten, dan mereka-reka apakah dirinya mampu menjadi sosok guru yang berbasis
kepada kompetensi, seperti di buku panduan yang dibacanya.

belajar

 

Ya, salahkan
kualitas guru, dan pola pendidikan masa lalu. Ada kebodohan kultural yang lama
tak terusik. Penjajahan selama tiga setengah abad membuat kita terbiasa
bungkam, enggan bergegas bangkit. Kemalasan sosial, mental, dan intelektual
menjadi daki berlapis-lapis dan pendidikan bertugas membenahinya. Lalu tak
heran kalau sekolah menuai kritik. Ketika sekolah dianggap gagal menumbuhkan
kapasitas intelektual, bahkan gagap merespon kebutuhan lapangan pekerjaan,
pendidikan kembali menjadi beban kesalahan masa lalu. Wajah pendidikan kita carut-marut,
maka tak heran apabila sebagai bangsa kita berjalan tertatih-tatih.

 

Beberapa hari
ini, ketika beberapa komunitas di kota besar mempromosikan budaya membaca, kata
literasi kembali ditelanjangi beramai-ramai. Benarkah kemunduran bangsa ini
akibat gagapnya tradisi literasi? Banyak akademisi yang mengeluhkan betapa
sulitnya memapankan budaya mengkaji teks, mengkritisinya, mengkontruksi
pemikiran baru, dan menstrukturkannya menjadi tulisan yang bernas.
Di tengah melesatnya budaya populer, buku tak pernah menjadi
prioritas. Masyarakat lebih mudah menyerap budaya berbicara dan mendengar,
ketimbang membaca, membangun gagasan, lalu menuliskannya.

 

Walter Ong adalah salah satu yang
membongkar kelemahan tradisi lisan dalam karyanya yang fenomenal, Literacy and
Orality. Setiap peradaban tentu saja mewariskan pengetahuan dan kebijaksanaan.
Kita tak perlu meragukan pengetahuan masyarakat Baduy yang tak melek huruf
dalam melestarikan lingkungan. Kepakaran, yang dalam tradisi lisan diperoleh
dengan mendengar, magang, mengingat simbol dan ilmu dalam bentuk syair, tetap
tidak bisa disebut proses pembelajaran kognitif, karena tradisi lisan tak
mengenal proses abstraksi, mengklasifikasi, dan menjelaskan fenomena secara
deduktif. Karenanya menurut Ong, menulis tak hanya melestarikan jejak sebuah
peradaban, tetapi juga upaya untuk menyempurnakan potensi kemanusiaan.

 

Paparan Ong tentang kelemahan tradisi lisan
tentu saja mengundang kritik karena sesungguhnya, dalam peradaban manusia
literasi dan tradisi lisan berkelindan begitu rupa. Tulisan pertama yang
ditemukan di

Mesopotamia

5000 tahun yang lalu
misalnya sulit dikategorikan ke dalam jejak tradisi lisan atau literasi,
apalagi apabila dinilai dengan standar literasi yang berlaku saat ini. Sebagai
seorang akademisi yang tumbuh dalam tradisi literasi barat, kritik Ong tentu
saja memuat bias. Definisi literasi yang diunggulkan Ong nyata-nyata merujuk
kepada tradisi literasi kontemporer yang diwariskan oleh hegemoni literasi
Romawi. Setiap kebudayaan oral memiliki jejak literasi yang unik. Kita mengenal
literasi tradisional dari masa lalu yang terekam dalam serat, tulisan di arca,
candi, juga di daun lontar. Ragam
tulisan ini mampu membuktikan bahwa standar literasi itu tak tunggal. Namun
mengapa kita hanya menempelkan label buta aksara kepada mereka yang tak bisa
membaca tulisan latin, sedangkan kita juga mengenal literasi Jawa, Sunda
misalnya, atau literasi Islam yang berbasis kepada tulisan Arab? Hegemoni
literasi, tampaknya membuktikan bekerjanya sebuah mekanisme yang tak terlihat:
ideologi.

 

Kemelek-hurufan dan kapitalisasi

 

Literasi telah
lama menjadi standar kemajuan bangsa, karenanya berbagai macam cara dilakukan
untuk memacunya. Tak hanya Indonesia, negara-negara berkembang di seluruh dunia
berlomba-lomba menekan angka buta aksara untuk meningkatkan taraf kemajuan
negara yang standarnya telah ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa. Harvey
Graff dalam Literacy Myth menengarai bahwa literasi telah mempengaruhi
mobilitas ekonomi dan peta sebaran ras dan kelas. Terdapat semacam stigma bahwa
buta aksara akan memicu kemiskinan dan kriminalitas. Dalam pendidikan anak,
seorang ibu yang melek aksara tentu akan dianggap lebih mumpuni ketimbang yang
buta aksara.

 

Kompleksitas
tatanan ekonomi pun meningkatkan tuntutan kemampuan literasi, sehingga
memperoleh nilai tambah kemelek-hurufan tak cukup lagi. Di era digital ini,
literasi teknologi menjadi standar kemampuan yang diharapkan oleh lapangan
kerja. Seandainya Karl Marx masih hidup mungkin dia akan menggolongkan literasi
sebagai salah satu bentuk kapital, karena sebagaimana kapital, literasi harus
memiliki nilai guna (use-value), bagian konstan sebuah produksi yang harus
mampu terus-menerus menciptakan nilai tambah (surplus-value).
Literasi mempertahankan eksistensi dirinya sebagaimana rangkaian
listrik; arusnya membuat lampu tetap menyala. Ketika apresiasi berbanding lurus
dengan kuantitas pengalaman literasi seseorang, mungkin literasi juga berfungsi
sebagai komoditi, yang bisa disetarakan dengan nilai nominal.

 

Kiranya tak berlebihan seandainya Catherine
Prendergast menyebutkan bahwa literasi adalah properti, atau milik kelas
tertentu. Dalam bukunya Literacy and Racial Justice, Prendergast menunjukkan
bahwa dalam sejarah literasi selalu menjadi alat bagi bangsa-bangsa kolonial untuk
mengukuhkan hegemoninya. Literasi tak hanya menjadi hak milik mereka yang dulu
tak bisa diakses oleh bangsa yang terjajah, namun juga sesuatu yang kini
dibagi-bagikan dengan kemasan ‘kesetaraan, kemajuan, dan modernitas.’
Sepertinya, negara-negara maju tengah mendistribusikan sesuatu milik mereka
agar negara berkembang tumbuh bersama-sama. Padahal, yang tercipta adalah suatu
bentuk ketergantungan baru. Kita akan terus-menerus mengejar sesuatu itu
seperti menggapai fatamorgana, hingga entah kapan. Mungkin sudah saatnya kita
bertanya, benarkah literasi menawarkan wacana pembebasan?

bermain

 

Diri,
teks, dan konteks

 

Literasi bukanlah
sebuah entitas yang netral. Literasi juga bukan sekadar kemampuan baca-tulis
yang steril dari kepentingan dan ideologi ekonomi, politik, dan sosial. Program
pemberantasan buta aksara bukanlah pembagian jatah dari pemerintah yang seragam
bentuk dan isinya. Literasi seharusnya dipahami sebagai proses interaksi antara
diri, teks, dan konteks. Dialog antara ketiga komponen ini tentunya
menghasilkan kemampuan dan tujuan pengembangan literasi yang unik, mungkin
berbeda antar komunitas, atau bahkan individu.

 

Tulisan ini tak bermaksud pesimistik. Tentu
saja kita membutuhkan literasi yang menyejajarkan kita dengan negara-negara
maju. Prestasi akademis dan kapasitas intelektual telah menjadi instrumen
dialog yang mengukuhkan eksistensi bangsa. Namun dalam degup yang cepat itu,
setiap komunitas memiliki peran yang sesuai dengan potensi dan konteks
sosialnya. Program pengembangan literasi seharusnya tak hanya berhenti pada
kemampuan memahami (decoding) teks, tetapi juga menafsirkannya dalam konteks
lokal yang unik dan plural, lalu mengaplikasikannya secara fungsional.

 

Dengan muatan kontekstual ini, fungsi
literasi akan merespon kebutuhan lokal sebuah komunitas, bukan tujuan tunggal
(nasional) yang seragam. Kegiatan literasi yang otonom ini tentunya akan
memberi keleluasaan kepada murid-murid di sekolah Nanik untuk belajar dengan
cara yang sesuai dengan kultur mereka, mempelajari materi yang mereka butuhkan,
bukan yang berorientasi kepada kehidupan

kota

besar. Program literasi yang
otonom juga akan membekali mereka dengan keahlian yang praktis dan fungsional.
Bukankah tak setiap orang harus menjadi ilmuwan, matematikawan, ahli teknologi
digital atau akademisi? Tentu saja mereka pun boleh menulis dengan bahasa
Indonesia dan Jawa campuran, kalau dengan itu mereka lebih leluasa
mengekspresikan imajinasi dan gagasan. Bukankah tak setiap orang akan menjadi
jurnalis atau sastrawan, yang harus menulis dengan struktur bahasa yang baik
dan benar? Mereka tak harus belajar seperti anak-anak di kota-kota besar,
apalagi murid-murid sekolah di Amerika. Anak-anak kampung itu akan belajar
untuk menjadi diri mereka sendiri, karena literasi sesungguhnya tidak akan
mencerabut seseorang dari identitas diri.



* Sofie Dewayani
She has published novels for children and teenagers. She writes short stories
and articles for Koran Tempo, Jurnal Mata Baca, and Republika
daily. She is now furthering her study on Curriculum and Instruction at
Language and Literacy Program University of Illinois at Urbana-Champaign with
specialitation in Children’s Literature. She can be reached at SOFIE
DEWAYANI AT YAHOO.COM
.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: